Cerpen: Pertemuan di Pulau Senja
Judul cerpen: Pertemuan di Pulau Senja
Penulis: Rainysa Avaron
Tahun Menulis: 2020
Senja menyelimuti nabastala.
Derap langkah sosok gadis kecil mampu menyita perhatian mentari guna menyorotkan cahaya lembutnya pada gadis itu. Gadis bermanik sayu tersebut, terus melangkah hingga sepak terjangnya mendekati deru ombak.
Sosok pria bertubuh jangkung, muncul di hadapannya tepat satu detik sebelum ombak kecil menyisir pantai.
“Kau siapa?” tanya si gadis kecil seraya memiringkan kepala.
Pria di hadapannya hanya memoles senyum tipis seraya menyahut, “Kau memang belum pernah mengenalku. Aku, sosok yang kini mengisi bunga tidurmu. Namun, bukan ini yang ingin kukatakan. Ada hal lain yang lebih penting.”
Satu detik setelah pria tersebut menyelesaikan kalimatnya, ombak kecil yang sedari tadi menerpa mereka meninggi hingga membentuk gulungan. Gulungan ombak yang membawa keduanya menjelajahi rahasia kotak usang masa lalu.
***
Tamparan pasir lembut, membangunkan sosok gadis kecil yang kini mulai membuka netranya perlahan. Manik sayunya mengerjap guna menyelisik arungan pasir di tepi laut.
“Dimana aku?” bisiknya yang kemudian berdiri. “Aku dimana?!” Ia mulai berteriak. Raut wajahnya berubah menegang. Disertai netra yang terus menerawang kesana-kemari.
Namun, raut tegangnya meluruh perlahan kala indra penglihatan menangkap sosok lain di tempat asing ini. Perlahan, gadis itu melangkah ke batu-batu karang. Suara tawa dan canda, menggema di antara pulau yang sedari tadi sunyi. Hingga kedua ujung bibirnya terangkat perlahan tatkala menatap sosok pria bertubuh jangkung yang tengah tertawa riang entah dengan siapa.
“Bagaimana, Aruna? Suka pemandangan ini?” celetuk pria tersebut.
“Sangat suka! Ayah, terima kasih banyak sudah memberiku kesempatan untuk ikut menjelajah pulau ini.”
“Sama-sama, Nak. Tidak menyesal Ayah mengajakmu karena pulau ini jadi tak begitu sunyi. Walau hanya ada dua orang.” Pria tersebut kemudian mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya di tangan kanan.
Rasa penasaran, memerintah si gadis kecil untuk terus menghampiri pria itu. Ia begitu penasaran dengan sosok gadis kecil lain yang berbicara bersama pria barusan dengan panggilan Ayah.
Dia siapa, sih? Kok, suaranya persis suaraku? batin si gadis kecil tak paham.
Langkah demi langkah kecilnya terus menyusuri hamparan pasir. Hingga tiba tepat di samping pria bertubuh jangkung. Tubuhnya terperanjat saat mengalihkan pandang ke arah gadis kecil yang tengah menikmati senja di samping pria barusan.
Seperti bercermin, itulah yang dirasakannya sekarang. Guna memeriksa, si gadis kecil menerawangi tubuhnya kembali. Apa lagi sekarang? Kini netranya membulat akan goresan kata yang terpampang jelas di telapak tangan kanannya.
Moon
Apa itu namanya?
Seketika pikirannya terasa kosong. Namun, pikiran kosong tersebut berusaha mengolah keping demi keping ingatan. Detik kedua, gadis kecil itu terenyak.
Ya. Namaku Moon. Tadi kan, aku sedang berjalan-jalan di tepi pantai. Kemudian, sosok pria bertubuh jangkung tiba-tiba muncul di hadapanku sebelum ombak menggulung. Ah, sayangnya aku tidak melihat jelas wajahnya karena terhalang mentari senja. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku dimana? Kenapa rasanya ... aku seperti melupakan banyak hal?
Di tengah kegamangan, akhirnya gadis bernama Moon tersebut memanggil si pria barusan, “Permisi ... boleh aku meminta bantuan? Sedari tadi tidak ada orang yang bisa kutemui di sini.”
Namun, anehnya ... pria dan gadis yang wajahnya persis Moon itu tetap asyik bercakap-cakap. Seolah tak ada lagi yang berbicara selain keduanya.
Moon yang merasa tidak ditanggapi, kembali berseru, “Hey, kenapa kalian tidak menjawabku?!”
Mereka tetap tidak menoleh ke arah Moon. Hingga suara Moon mulai parau akibat terus berteriak.
***
“Kenapa kalian diam saja?! Aku takut di sini, toloong!!”
“Moon, bangunlah! Kamu kenapa?!” Sosok wanita berwajah teduh berseru di sisi Moon.
Moon mengerjapkan manik cokelat madunya. Peluh membanjiri dahi gadis kecil itu. wajahnya nampak panik.
“Aku ... dimana?” Moon bertanya setelah beberapa detik diarungi kebingungan mendalam.
“UKS. Tadi kamu pingsan waktu upacara. Tenangkan dirimu dulu, ya,” saran wanita yang sepertinya guru Moon itu.
Ingatan Moon kembali mengelana. Kemudian, gadis itu menatap ke arah jam dinding. Nyaris pukul delapan. Yang artinya sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai.
“Terima kasih, Bu. Saya mau ke kelas sekarang,” izin Moon seraya meloncat dari ranjang UKS. Setelah gurunya mengiyakan, Moon segera berlari ke kelas.
***
Jam istirahat telah tiba. Sebagian besar siswa berhamburan keluar kelas.
Moon termenung sendiri di tempat duduknya yang terletak di pojok belakang. Sekelebat bayang dari bunga tidurnya barusan terus mengusik pikiran. Gadis kecil itu hanya merenung sambil sesekali netranya menerawang hamparan laut yang terpampang di balik jendela. Sekolah mereka memang dekat dengan laut. Begitu pun kelas Moon yang terletak di lantai atas. Lebih-lebih Moon yang duduk di pojok bisa lebih memandangi arungan samudra dari balik jendela.
Seperti ada bisikan yang mendorong raganya. Moon segera meloncat dari kursinya. Berlari cepat dan menyusuri tangga.
Hingga ia tiba di halaman belakang sekolah. Kebetulan pagar belakang saat itu terbuka. Moon langsung melengos pergi melewati pagar tersebut.
Hamparan pasir putih menyambut kedatangannya. Bersama buih-buih ombak kecil yang sesekali menerpa. Angin menerbangkan anak rambut Moon, menyatukan jalar ketenangan dan keresahannya.
Tempat ini ... seperti yang ada di mimpiku tadi....
“Moon ... Ayah tidak menyangka kau memenuhi permintaanku lewat bunga tidur barusan,” lirih sosok pria bertubuh jangkung yang sontak mengejutkan Moon karena tiba-tiba ia hadir di depan buih-buih ombak.
“Ayah?” ulang Moon tak paham.
“Ya, aku ayahmu. Moon apa kabar? Ayah dan kembaranmu, Aruna, bingung selama ini. Kami menyusuri pulau demi pulau guna mencarimu sejak kehilanganmu sewaktu kita berpetualang bersama. Hingga suatu hari, badai besar menyerang perahu kecil kami. Dari situlah Ayah menemukan cara mudah mencarimu. Yaitu dengan memasuki alam mimpimu,” jelas pria tersebut.
Moon hanya memasang wajah tak paham. Namun, ketika manik cokelat madunya menangkap buih-buih ombak kecil yang mulai membesar menuju ke arahnya, gadis itu memasang senyum simpul.
Mungkin ini saatnya aku mencicipi kebahagiaan Ayah dan Aruna di pulau senja kemarin.
T A M A T

Wuah mantap, saya dapat kosakata baru. Sukses terus Kak.
BalasHapusMakasih, Kak. Ditunggu ya update cerita terbaru di blog ini ^^
HapusKeren ^^ Semangat nulisnyaa
BalasHapusSiap, makasih udah baca....
Hapus