Di Balik Karya Tulis
Penulis: Rainysa Avaron
Tahun Menulis: 2020
Suara ketikan lembut menemaniku di tengah kesunyian malam. Dua kata lagi, satu kata ... hingga tiba di lembar ke enam. Kujauhkan jemari dari rangkaian huruf di laptop. Pandanganku sontak mengarah ke jam dinding. Nyaris tengah malam, dalam hitungan lima menit dari sekarang.
Menulis hingga larut, bukan lagi kebiasaan baru bagiku. Satu hal yang baru di malam ini, merangkai kata dalam cerita horor. Beruntung aku bukan penakut. Sungguh, ini adalah malam pertama sekaligus pertama kalinya aku menyusun karya tulis dengan genre yang menyulut keremangan bulu kuduk.
Awalnya tak punya inspirasi. Tapi, bayi tetangga yang baru lahir dan singgah di rumahnya siang tadi, sungguh baik. Ya, sumber inspirasi dalam cerita horor pertamaku.
Hey, ada apa di luar sana?
Tanpa berpikir panjang lagi, aku mengintip ke luar jendela. Suara rusuh seketika mengganggu ketenangan malam. Beraneka jeritan serta sentakan sepak terjang bercampur aduk menyerubungi daerah perumahan ini. Hingga netraku berpaku pada luapan asap tebal dari salah satu atap rumah gedong yang nyaris habis termakan sang Jago Merah.
Hatiku langsung diarungi keresahan dan kekalutan. Aku meloncat dari kursi, segera berlari ke bawah menyusuri tangga. Nampak ibuku telah berdiri di halaman.
"Rumah siapa yang kebakaran?" tanyaku segera yang sudah menyusul Ibu.
"Keluarga Bu Sheza. Kasihan, padahal baru aja mereka bawa buah hatinya yang baru lahir," ucap Ibu prihatin.
Aku terenyak. Sungguh terkejut dengan penuturan Ibu barusan. Dan ... satu hal lagi yang malah membuatku khawatir. Sekaligus merasa takut dan bersalah. Ah, tapi kan, ini bukan salahku.
Mana mungkin cerita yang kutulis jadi kutukan bagi keluarga Bu Sheza.
Kini, alunan sirene ambulan ikut memenuhi kehebohan malam ini.
"Para warga dan pemadam kebakaran, sudah berhasil memadamkan apinya. Coba lihat, yuk, keadaan keluarga Bu Sheza sekarang," ajak Ibu dan aku mengikutinya.
Suara jerit tangis bayi, sontak membuatku salah fokus ketika menginjakkan kaki di lokasi kebakaran tersebut.
Nampak ayahku berdiri di sana seraya menggendong bayi menangis tadi. Setelah mendengar obrolan warga sekitar, rupanya ayahku berhasil menyelamatkan bayi yang tadi sempat terkurung dalam kobaran api.
"Kasihan bayi ini, kedua orang tuanya tewas dalam peristiwa kebakaran barusan," tutur salah satu warga.
"Jadi, Bu Sheza dan Pak Arman meninggal?" sahut ibuku. Para warga yang sedari tadi berdiri di tempat kejadian mengiyakan.
"Lalu siapa yang bakal ngurus anak itu? Baru sekitar satu minggu lahir, sudah harus kehilangan kedua orang tuanya."
"Kalau boleh ... keluarga kami bersedia merawatnya," celetuk ayahku.
"Ya, aku juga setuju," balas Ibu segera.
***
Hari ini, sosok bayi mungil yang baru saja menjadi anak sebatang kara semalam, sudah terlelap nyaman di rumahku. Tepatnya di salah satu kamar kosong yang terletak di samping kamarku. Kamar kosong itu dulunya menjadi ruang tidurku sewaktu bayi. Ranjang bayinya juga masih bagus. Ibu juga sering membersihkan kamar tersebut walau aku yang kini sudah berusia tujuh belas tahun tidak memakainya lagi.
Aku sama sekali tak keberatan akan hal itu. Senang juga anak tunggal sepertiku walau hanya punya sekadar adik angkat. Lagi pula kehidupan keluarga kami berkecukupan ini.
Tapi, ada yang aneh dengan ayahku setelah kejadian semalam. Tubuh Ayah begitu lemah seperti orang yang kehabisan energi. Mungkin ... Ayah sedang tidak enak badan karena kelelahan.
Aku membuka pintu kamar. Ingin melihat adik bayi itu. Tiba di luar, langkahku segera menyusur ke kamar sebelah. Ah, rupanya Ibu ada di sana.
"Bu ...," panggilku. Namun kalimatku tergantung ketika benar-benar tiba di depan ranjang bayi itu. Entahlah. Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak begini. Seolah ada energi negatif yang menjalari tubuhku.
Tubuhku terperanjat kala netra tak sengaja berpaku pada jendela kamar ini. Apa itu? Sedetik yang lalu, rasanya ada sosok wanita berjalan sekilas di tempat itu. Aku tidak tahu wajahnya, sebenarnya hanya sekelebat rambut hitam panjang yang kulihat.
Baiklah ... mungkin itu hanya ilusi karena aku kurang tidur guna menyelesaikan tulisan-tulisanku hingga larut malam. Berpikir positif saja.
"Ya, Rachel? Hey, kenapa bengong begitu?" Sontak pertanyaan Ibu mengejutkanku.
Aku menggeleng gugup. "Eng ... nggak apa-apa kok, Bu."
Kulihat bayi di ranjang itu terbangun. Dan ... meraung lagi.
Ibu segera menggendongnya seraya bertutur, "Sepertinya dia mulai bosan di tempat tidur terus."
Aku menyusul Ibu yang segera membawa bayi itu keluar, menyusuri tangga, hingga tiba di ruang keluarga. Ibu menimang-nimang bayi tersebut guna meredakan tangisannya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya berhenti juga tangisnya.
Masih membawa si bayi, Ibu terduduk di sofa ruang keluarga.
"Kok ... badan Ibu tiba-tiba rasanya lemas sekali, ya?" keluh ibuku.
Aku langsung berinisiatif, "Rachel saja yang gendong. Mungkin Ibu kelelahan."
"Aneh. Padahal Ibu hanya menggendongnya sebentar. Dari tadi juga nggak melakukan pekerjaan berat," gumam Ibu. "Ya sudah, Ibu ke kamar dulu sebentar. Mungkin sedang tidak enak badan. Mumpung dia sudah tenang, Rachel tolongin bawa lagi ke kamar atas, ya...."
Aku mengangguk dan segera beranjak ke lantai atas lagi.
Sesampainya di kamar masa kecilku dahulu, kutidurkan bayi itu di ranjangnya lagi. Ngomong-ngomong ... rindu juga aku dengan kamar ini. Suasana di sini begitu sunyi hingga langkah kecilku ke arah jendela terdengar begitu nyaring.
Ah, tapi ... kenapa tubuhku tiba-tiba jadi ikut lemas begini? Kemarin Ayah, tadi Ibu, dan sekarang ... aku. Kenapa, sih?
Wusshhh!
Seketika angin berembus kencang dari luar jendela. Sontak bola mataku melebar saat melirik ke samping ranjang bayi barusan. Sosok wanita bertubuh jangkung mengambil bayi dari dalam ranjang tersebut. Wanita itu menggunakan pakaian layaknya suster di rumah sakit. Yang membuatku salah fokus ... pakaiannya dipenuhi cairan kental berwarna merah. Nampak jelas bahwa cairan tersebut menjalar dari atas wajahnya yang terselimuti helai-helai surai panjang.
"AAA!!!"
***
Buuukk!!
Sontak aku terbangun ketika mendengar hentakan barusan. Huuufft ... ternyata hanya sebuah buku yang jatuh. Kenapa aku bisa tertidur begini? Ayolah, ini adalah hari keduaku untuk menyelesaikan cerita horor pertama. Cerita horornya malah datang di alam mimpi.
Mungkin karena aku kelelahan siang tadi. Entah mengapa, secara bergantian ... Ayah, Ibu, dan aku, kehilangan energi hari ini setelah menggendong bayi yang diasuh oleh Ibu dan Ayah sejak kebakaran di rumah Bu Sheza kemarin.
Aku memang tidak keberatan untuk punya adik angkat. Tapi, kejadian aneh yang menyangkut bayi tersebutlah yang membuatku bergidik. Perilakunya ... persis bayi di tokoh cerita horor pertamaku ini.
Belum lagi soal mimpi mengerikan barusan.
Bagaimana mungkin cerita khayalanku menciptakan kisah nyata?
Baiklah. Dari pada berpikir yang aneh-aneh, lebih baik kuselesaikan saja cerita horor pertamaku ini.
Aku mulai membuka laptop. Berniat mengetikkan kata baru. Namun, satu kalimat yang kuketik kemarin di ujung paling akhir, membuatku berpikir kembali.
Bayi misterius tersebut dapat menyerap energi seseorang yang menggendongnya.
Begitulah seuntai kalimat yang menyulut pikiran overthinking-ku lagi.
Tiba-tiba, raungan tangis mengalun lagi dalam indra pendengaranku. Bukan, bukan hanya indra pendengaranku. Kurasa ... bayi tersebut memang menangis lagi. Tapi, kali ini suara tangisnya begitu dekat. Sepertinya, ia bukan berada di kamarnya.
Melainkan ... tepat berada di depan pintu kamarku. Tapi, bagaimana bisa? Tidak ada suara Ayah atau Ibu yang menggendongnya juga, kan? Ya, sudah kubilang aku bukan penakut. Apa salahnya mengecek? Dari pada berpikiran negatif terus seperti ini.
Kuberanikan diri untuk melangkah ke arah pintu dan segera membuka kenopnya.
Tangisan bayi itu mengeras tatkala aku tiba di hadapannya. Lagi-lagi ... wanita yang menggendong bayi itu.
Dia ... ah, bukankah ... dia wanita angker di mimpiku barusan? Apa-apaan ini?
Baru saja aku mengira cerita imajinasiku jadi kenyataan. Sekarang, sangat jelas kalau bunga tidurku jadi kenyataan. Dan ... sepertinya firasatku mulai mengatakan bahwa cerita yang kutulis memang telah menjadi kisah nyata.
Aku berjalan mundur. Berusaha meneguk saliva dengan susah payah. Bulu kudukku meremang disertai keringat dingin yang mulai mengucur deras dari dahi hingga berkumpul di ujung dagu.
Tiba-tiba, rasa dingin nyaris beku menempel di pergelangan tanganku. Tangan mungil bayi yang kini digendong oleh wanita berwajah hancur disertai darah yang mengucur deras hingga meredam bajunya, meraba pergelangan tanganku dengan telapak mungil bernodakan cairan merah kental. Mata bayi itu yang jatuh tercongkel juga membuatku nyaris pingsan.
"Keluargamu melakukan kesalahan besar. Kalian menculik anakku. Bakal kulakukan hal yang sama untuk keluargamu seperti aku membuat kedua penculik kemarin terbunuh dalam kobaran api," geram wanita tersebut bernada suara dingin.
Aku tidak mengerti, apa ini adalah malam terakhirku? Sungguh, tidak ada yang tahu kalau bayi itu milik wanita ini. Andai keluargaku tahu waktu itu. Kami tak akan mengasuhnya.
Lalu bagaimana dengan tulisanku?
Aku ingin membuat tulisan yang hidup. Tapi, ini terlalu hidup. Kisah nyata dari bumbu imaji yang mungkin beberapa detik lagi akan merenggang nyawa kami sekeluarga.
Pertama dan terakhir kalinya aku menulis cerita horor.
Menyulut rasa trauma pada genre horor.

Komentar
Posting Komentar